Artikel Berita

Kegemaran Anak-anak Mengkonsumsi Gula

Tercatat:  Rabu, Juli 16, 2014

Dalam survey terbaru, anak-anak di Eropa mengkonsumsi hampir 100 gram gula setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan 33 buah gula ukuran dadu, atau lebih dari satu liter minuman ringan dalam sehari. Tetapi gula juga bisa berasal dari makanan sehat seperti buah dan susu. Penelitian ini tidak membedakan antara gula tambahan (dari minuman ringan, kue, permen dan sejenisnya) dan makanan yang mengandung gula alami. Angka total masih tinggi, kata salah satu peneliti yang melakukan studi tersebut. 

"Konsumsi makanan manis seperti permen dan soda cukup tinggi pada anak-anak Eropa," kata peneliti dari Swedia Christel Larsson, profesor ilmu gizi di University of Gothenburg. 

Konsumsi tertinggi di Jerman 

Swedia, Belgia, Jerman, Estonia, Hungaria, Spanyol, Italia dan Cyprus berpartisipasi dalam studi ini, yang merupakan bagian dari the European Idefics project. Lebih dari 9.000 anak-anak berusia antara 2 dan 9 tahun diperiksa pada tahun 2007 dan 2008. Rata-rata, seperempat dari energi yang mereka dapatkan dalam makanan berasal dari gula. Konsumsi tertinggi di Jerman, sebesar 30 persen. Di Swedia, sebesar 22 persen. Penelitian ini tidak memberikan angka untuk proporsi tambahan gula. Larsson mengacu pada angka dari Swedia, di mana jumlah tambahan gula meningkat dari tahun 1980 hingga 2003. Pada tahun 2003, anak usia delapan tahun di Swedia mendapatkan setidaknya 12 persen asupan energi berasal dari sukrosa, yang merupakan bagian dari gula tambahan. Ini adalah prevalensi terbaru yang tersedia.

Pesta pada Akhir Pekan

Anak-anak di Eropa mengkonsumsi banyak gula sepanjang minggu, namun konsumsi gula mencapai puncaknya pada akhir pekan. Namun survey di Eropa menunjukkan bahwa total asupan energi tidak meningkat pada akhir pekan.  "Ini menunjukkan bahwa asupan gula datang dengan mengorbankan energi dari makanan lain," kata Larsson. Dia prihatin akan ketidakseimbangan dalam menu makanan, terlepas dari sumber gula -baik itu permen atau jus buah. "Risiko kesehatan terbesar adalah bahwa anak-anak pada usia dini menjadi terbiasa dengan asupan tinggi bahan makanan manis yang padat energi namun mengandung sedikit nutrisi. Hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi negatif untuk kesehatan gigi dan peningkatan risiko obesitas," kata Larsson. 

Kebiasaan Konsumsi Makanan Manis

Meskipun Norwegia tidak ambil bagian dalam survei, peneliti postdoctoral Anne Lene Kristiansen di Universitas Oslo berbagi keprihatinan Larsson. "Dalam jangka pendek, akan terjadi  masalah jika anak mengonsumsi gula bukan dari makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang mereka butuhkan. Anak-anak lebih rentan terhadap menu makanan yang tidak seimbang karena anak-anak masih dalam masa pertumbuhan," kata Kristiansen, yang melakukan penelitian tentang diet pada anak-anak. "Anak-anak membangun kebiasaan. Jika Anda mengkonsumsi banyak gula, Anda dapat mengembangkan preferensi untuk rasa manis. Ini dapat bertahan di masa dewasa." Penelitian ini didasarkan pada survei di mana orang tua diminta untuk menyatakan apa yang dikonsumsi anak-anak selama 24 jam sebelumnya. Para peneliti juga mengumpulkan data tentang apa yang anak-anak makan dan minum di sekolah dan di TK. (MN dari NNI South Asia Website)

Svensson, Å., m.fl.: European children's sugar intake on weekdays versus weekends: the IDEFICS study. European Journal of Clinical Nutrition (http://www.nature.com/ejcn/journal/v68/n7/full/ejcn201487a.html)

Penelitian lebih lengkap dapat diunduh di: 

http://sciencenordic.com/children-feast-sugar