Artikel Berita

Studi Baru Menyoroti Penggunaan Probiotik untuk Alergi Makanan

Tercatat:  Rabu, Oktober 08, 2014

Pada temuan baru yang mencolok, probiotik Clostridia dalam usus dapat melindungi terhadap sensitisasi alergi makanan.

Penelitian, yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menemukan bahwa paparan alergi kacang pada tikus bebas kuman dan tikus yang diberikan perlakuan antibiotik memperlihatkan hasil buruk terhadap respon imun bila dibandingkan dengan tikus dengan bakteri usus yang normal. Namun, reaksi merugikan ini berkurang khususnya saat koloni Clostridia diperkenalkan kembali di tikus bebas kuman.

Menurut tim peneliti, Clostridia membantu mengurangi permeabilitas dinding usus melalui modulasi sel imun bawaan untuk mengeluarkan interleukin-12 (IL-12). Karena pada langkah penting ini, alergen dibatasi untuk masuk ke aliran darah dan sensitisasi kekebalan dapat dicegah. 

"Hal ini menarik karena kita dapat mengetahui apa bakterinya; sehingga kita memiliki cara untuk intervensi. Probiotik sebagai bahan terapeutik benar-benar teruji terhadap alergi makanan yang diketahui tidak ada pengobatannya", kata peneliti senior Dr Cathryn Nagler, University of Chicago.

Prevalensi alergi makanan pada anak-anak telah meningkat tajam, sebesar 50% antara tahun 1997 dan 2011. Penelitian menyoroti penggunaan antibiotik dan antimikroba sebagai alasan peningkatan ini. Terlepas dari ini, alergi makanan memiliki faktor yang rumit dan tidak diketahui sehingga sulit untuk diobati. Karena Clostridia adalah bakteri yang sering dijumpai, pengobatan dengan Clostridia sebagai target mungkin menjadi lebih mudah. 

Meskipun temuan pada studi ini perlu dikuatkan kembali oleh studi epidemiologi skala besar, kemungkinan pencegahan alergi makanan hanya dengan mengubah mikroflora usus dapat dipertimbangkan ke depannya.

Keberadaan Clostridia, bakteri usus yang sering dijumpai, dapat memberikan perlindungan terhadap alergi makanan, temuan dari sebuah studi baru pada tikus. Dengan menginduksi respon imun terhadap alergi makanan dapat memasuki aliran darah, Clostridia meminimalkan paparan alergen dan mencegah sensitisasi - langkah kunci dalam pengembangan alergi makanan. Fokus penemuan terhadap terapi probiotik untuk kondisi yang sampai saat ini masih tidak dapat diobati ini, laporan para ilmuwan dari University of Chicago pada 25 Agustus dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

Meskipun penyebab alergi makanan, yang kadang memiliki respon imun mematikan terhadap makanan tertentu, tidak diketahui, penelitian telah memperlihatkan bahwa praktek-praktek higienitas atau diet modern yang mungkin memainkan peran dengan cara mengacaukan komposisi bakteri alami tubuh. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian alergi makanan pada anak-anak telah meningkat tajam - meningkat sekitar 50 persen antara tahun 1997 dan 2011 - dan penelitian telah menunjukkan korelasi hal ini dengan penggunaan antibiotik dan antimikroba.

"Rangsangan lingkungan seperti pemberian antibiotik berlebihan, diet tinggi lemak, kelahiran caesar, penghilangan patogen dan bahkan susu formula telah mempengaruhi mikrobiota yang berevolusi beriringan dengan kehidupan kita” kata penulis senior studi ini, Cathryn Nagler, PhD, Profesor di Bunning Food Allergy pada University of Chicago. "Hasil penelitian kami menunjukkan hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan kerentanan terjadinya alergi makanan." 

Untuk menguji seberapa besar bakteri usus dapat mempengaruhi alergi makanan, Nagler dan timnya meneliti respon terhadap alergen makanan pada tikus. Mereka memberikan paparan alergi kacang pada tikus bebas kuman(lahir dan dibesarkan dalam kondisi steril dimana tidak terdapat mikroorganisme) dan tikus yang diberikan antibiotik seperti bayi yang baru lahir (yang secara signifikan mengurangi bakteri usus). Kedua kelompok tikus menampilkan respon kekebalan yang kuat, menghasilkan kadar antibodi terhadap alergen kacang yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan tikus dengan bakteri usus normal.

Sensitisasi terhadap alergen makanan ini bisa dibalik, namun, dengan memasukkan campuran bakteri Clostridia kembali ke tikus. Pengenalan kembali kelompok bakteri usus dominan lain, Bacteroides, gagal untuk mengurangi kepekaannya, menunjukkan bahwa Clostridia memiliki, peran protektif yang unik terhadap alergen makanan.

Untuk mengidentifikasi mekanisme perlindungan ini, Nagler dan timnya mempelajari respon imun seluler dan molekuler bakteri dalam usus. Analisis genetik mengungkapkan bahwa Clostridia menyebabkan sel-sel kekebalan tubuh bawaan untuk menghasilkan tingkat interleukin-22 (IL-22) yang tinggi, molekul pemberi sinyal yang dapat menurunkan permeabilitas lapisan usus.

Tikus yang diberikan antibiotik diberikan perlakuan dengan pemberian baik IL-22 atau terkolonisasi oleh Clostridia. Bila diberikan paparan alergen kacang, tikus pada kedua kondisi ini memperlihatkan penurunan kadar alergen dalam darah mereka, bila dibandingkan dengan kontrol. Kadar alergen meningkat secara signifikan, namun, setelah tikus diberi antibodi yang menetralisir IL-22, menunjukkan bahwa Clostridia yang menginduksi IL-22 dapat mencegah alergen masuk aliran darah.

"Kami telah mengidentifikasi populasi bakteri yang melindungi terhadap sensitisasi alergen makanan," kata Nagler. "Langkah pertama sensitisasi terhadap alergen makanan adalah pada saat alergen tersebut masuk ke dalam darah dan disampaikan kepada sistem kekebalan tubuh. Keberadaan bakteri ini mengatur proses tersebut." Dia memperingatkan, bagaimanapun, bahwa temuan ini mungkin berlaku pada tingkat populasi, dan bahwa hubungan sebab-akibat dalam individu membutuhkan studi lebih lanjut.

Sementara faktor yang rumit dan sebagian besar sudah ditentukan seperti halnya genetik sangat mempengaruhi apakah individu tersebut akan mengembangkan alergi makanan dan bagaimana mereka memperlihatkan manifestasinya, identifikasi respon terhadap bakteri yang menginduksi barrier pelindung  merupakan sebuah paradigma baru untuk mencegah sensitisasi terhadap makanan. Bakteri Clostridia  lazim terdapat di manusia dan merupakan target yang jelas untuk terapi yang potensial yang dapat mencegah atau mengobati alergi makanan. Nagler dan timnya sedang bekerja untuk mengembangkan dan menguji komposisi yang dapat digunakan untuk terapi probiotik dan telah mengajukan hak paten sementara.

"Hal ini menarik karena kita dapat mengetahui bakteri apa sehingga kita memiliki cara untuk intervensi," kata Nagler. "Tentu saja ada tidak ada jaminan, tapi ini benar-benar teruji untuk penyakit dengan terapi yang masih belum ada. Sebagai seorang ibu, saya bisa membayangkan bagaimana menakutkannya bila harus khawatir setiap kali anak Anda mengambil gigitan dari setiap makanannya."

"Alergi makanan mempengaruhi 15 juta orang Amerika, termasuk satu di 13 anak, yang hidup dengan penyakit yang berpotensi mengancam jiwa ini yang sampai saat ini belum ada obatnya," kata Mary Jane Marchisotto, wakil presiden senior penelitian di Food Allergy Research & Education. "Kami senang telah mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Nagler dan rekan-rekannya di University of Chicago."

Artikel unggulan kami di Life Extension Daily News berasal dari berbagai sumber berita dan disediakan sebagai layanan oleh Life Extension. Artikel ini, berpotensi menarik minat pembaca Life Extension Daily News, tidak mewakili pendapat atau saran dari Life Extension.

Keterangan lebih lanjut bisa dilihat dalam tautan berikut :

http://www.lef.org/news/LefDailyNews.htm?NewsID=22793&Section=NUTRITION