Artikel Berita

Perpajakan Minuman Manis untuk Mengurangi Gangguan Gaya Hidup

Tercatat:  Rabu, Juli 16, 2014

Pengadaan pajak pada minuman bergula-berpemanis (sugar-sweetened beverages/SSBs) dapat membantu mengurangi konsumsi minuman tersebut dan menurunkan kejadian diabetes yang dipicu oleh gaya hidup di India dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya, ungkap sebuah penelitian terbaru. 

Berdasarkan pemodelan ekonomi dan epidemiologi, penelitian tersebut menyatakan bahwa pajak 20 persen pada minuman bergula-berpemanis dapat menurunkan risiko diabetes karena gaya hidup (diabetes tipe 2) sebesar 1,6% dan risiko obesitas sebesar 3%.

Sebuah proyeksi memaparkan bahwa pajak tersebut bisa membantu mencegah 11,2 juta kasus obesitas dan 400.000 kasus diabetes tipe 2 di India antara tahun 2014 dan 2023. India diproyeksikan akan memiliki 101.200.000 penderita diabetes pada tahun 2030, angkanya mencapai hampir dua kali lipat dari jumlah saat ini. 

Saat pajak untuk minuman bergula-berpemanis sudah diusulkan di negara-negara berpenghasilan tinggi, belum ada pemaparan manfaat pajak diterapkan di negara berpenghasilan menengah seperti India dengan pola konsumsi gula yang beragam, kata Sanjay Basu, asisten profesor di Stanford University School of Medicine, Amerika Serikat. 

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Stanford University School of Medicine, Yayasan Kesehatan Masyarakat India, New Delhi, London School of Hygiene & Tropical Medicine dan lainnya yang diterbitkan dalam jurnal PLoS Medicine bulan lalu (Januari). 

Penelitian ini menganalisis data konsumsi minuman bergula-berpemanis dan variasi harga dari sampel nasional di lebih dari 100.000 rumah tangga di India, dan mengkalkulasi bagaimana perubahan harga minuman dapat mengubah perilaku konsumsi individu, dan minuman apa yang dijadikan pengganti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok laki-laki muda di pedesaan akan mendapat manfaat besar dari kenaikan pajak, dibandingkan orang-orang urban yang dianggap menjadi konsumen terbesar minuman bergula-berpemanis.  

SV Subramanian, profesor kependudukan, kesehatan dan geografi di Universitas Harvard, menyatakan ketidaksetujuannya. "Secara umum, sebagian besar data adalah 'simulasi' atau data berdasarkan "modelling'. Dengan kata lain, kita belum mengamati klaim yang dibuat di dunia nyata," Subramanian mengatakan pada  SciDev.Net. 

"Dalam kasus India, dengan penderita obesitas kurang dari lima persen, tidak cukup meyakinkan apa jenis dampak populasi akan kita lihat. Dalam penelitian yang dilakukan di Inggris dan Amerika Serikat efeknya kecil tapi ada banyak orang menderita obesitas - jadi mungkin masih masuk akal, tetapi tidak untuk India," katanya. 

“Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah melakukan uji coba acak-terkontrol; mencakup pengaruh pemberian jus buah olahan dan pemanis buatan sebelum mengambil kesimpulan,” tambah Subramanian. 

Prevalensi obesitas di India sebesar 9%, dibandingkan dengan 25 persen di Inggris dan 35,7 persen di AS, menurut data resmi. (MN dari NNI South Asia website)

Tautan publikasi jurnal  di PLoS Medicine : 

http://www.scidev.net/south-asia/health/news/taxing-sugary-drinks-to-cut-lifestyle-disorders.html