Artikel Berita

Pengenalan Konsep Ekonomi Kesehatan (Health Economics) dalam aspek pencegahan alergi pada anak : Perspektif dari Pakar Kesehatan Indonesia

Tercatat:  Rabu, Oktober 09, 2013

Rangkuman dari Simposium Rehat pada PIT 6th IDAI di Solo 2013

“Kita tidak membutuhkan uang untuk menjadi sehat, tetapi kita membutuhkan sehat untuk mendapatkan uang”, kalimat itu merupakan kata kunci yang dipaparkan oleh DR. dr. Astrid Sulistomo, MPH, SpOK dalam pemaparannya yang berjudul “Principle Health Economics – Health Provider Aspect” pada acara break symposium PIT 6th IDAI di Solo. Beliau menjelaskan intervensi dalam bidang kesehatan itu akan berdampak pada tingkat ekonomi. Konsep ini dikenal dengan Health Economics atau Ekonomi Kesehatan. Lebih jelasnya lagi, melalui analisis Health Economics atau Ekonomi Kesehatan bisa terlihat adanya intervensi kesehatan pada bidang kesehatan masyarakat maupun system kesehatan dapat memprediksi dampak ekonomis atau sebaliknya menambah beban ekonomi pada masyarakat.

DR. Dr. Astrid Sulistomo, MPH, SpOK

DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K)

Tentu saja sebagai petugas kesehatan, Astrid menambahkan, seorang dokter pasti akan memilih terapi yang paling efektif namun konsep ekonomi kesehatan bisa memberikan opsi kepada dokter untuk memperhitungkan biaya sebagai salah satu faktor penting untuk efisiensi pengobatan tanpa mengesampingkan aspek efektifitas terapi terhadap pasiennya. Health economics sendiri pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara menerjemahkan keuntungan dari segi kesehatan ke dalam keuntungan secara ekonomis. Kemudian, membandingkan biaya yang dihabiskan untuk pencegahan dibandingkan dengan terapi pengobatan, dan pada akhirnya akan membantu memilih mana yang lebih efektif dan efisien. Menurut Astrid, dengan diterapkannya sistem BPJS oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per Januari 2014, konsep health economics semakin relevan diterapkan pada sistem kesehatan di tanah air.

Hal tersebut semakin dikuatkan oleh pernyataan DR. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) yang lebih spesifik berbicara mengenai terapi pencegahan alergi dipandang dari segi ekonomis dibandingkan dengan pengobatan alergi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara, tentu saja dengan melakukan terapi pencegahan alergi, yaitu menggunakan susu formula terhidrolisa parsial yang telah teruji klinis bagi bayi yang secara indikasi medis tidak dapat diberikan ASI, maka efek jangka panjang menjadi lebih efisien dibandingkan dengan sumber daya yang dikeluarkan untuk pengobatan. Hal ini dikarenakan manifestasi alergi sudah terjadi dan akan lebih sulit untuk disembuhkan. Menurut Zakiudin, prinsip ekonomi kesehatan sangant relevan pada pencegahan dan penatalaksanaan alergi pada anak karena sifat dari penyakti alergi yang kronis dan berulang sehingga pengobatannya pun tidak hanya sekali. Itu sebabnya dengan pencegahan sedini mungkin, keluarga tidak perlu menanggung beban ekonomi yang terlalu besar untuk terapi alergi anak. Hal ini akan berdampak pada kualitas kehidupan individu dan keluarga pada umumnya. Penelitian Health Economics yang akan dikembangkan oleh dua pakar ini yang bekerja sama dengan Nestle Nutrition Insitute Indonesia akan membantu masyarakat untuk memilih terapi mana yang lebih efektif dan efisien untuk menunjang kesehatan.

Health Economics Study Nestle Nutrition Institute

Nestle Nutrition Institute (NNI) di Indonesia saat ini sedang melaksanakan penelitian analisis Health Economics terhadap dampak formula partial hydrolyzed-whey (Phf-W)dalam mencegah kejadian dermatitis atopik pada anak. Penelitian ini melibatkan Dr dr Zakiudin Munasir SpA(K) dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI sebagai primary investigator dan Dr dr Astrid Sulistomo MPH SpOK sebagai co-investigator untuk aspek epidemiologi dan community medicine analysis. Penelitian serupa juga dilaksanakan secara parallel di Malaysia dan Singapura serta telah selesai dan dipublikasikan di tiga Negara lain dikawasan Asia Pasifik yaitu Thailand, Filipina dan Australia. Hasil studi di Indonesia ini merupakan analisis ekonomi kesehatan pertama di bidang nutrisi yang dilaksanakan di Indonesia.