Artikel Berita

Pendapat Para Ahli Mengenai Peranan Protein pada Masa Kanak-Kanak

Tercatat:  Kamis, Maret 20, 2014

Protein dan peranannya bagi pertumbuhan anak, terutama pada peningkatan berat badan dan resiko obesitas jangka panjang, merupakan topic utama yang dibahas pada newsletter Nestle Nutrition Institute di Asia Tenggara. Terdapat empat pakar yang membagi informasi tentang kecukupan asupan protein pada 1000 hari pertama kehidupan, bersama dengan zat gizi lain, memiliki peranan penting pada fungsi metabolic yang berdampak pada kesehatan di masa mendatang.  

Berikut adalah rangkuman pendapat para pakar :

Dr Hans van Goudoever, Professor Pediatric dari Belanda menyatakan bahwa kebutuhan protein pada bayi preterm berhubungan dengan perkembangannya. Belia menyatakan bahwa bayi preterm dengan berat lahir sangat rendah (ELBW) menghadapi banyak tantangan pada saat kelahiran dan memiliki kebutuhan nutrisi yang sama dengan ketika masih janin.  Asupan protein adalah pendorong kenaikan berat badan pada bayi BBLR, beliau menyimpulkan bahwa ASI harus merupakan sumber utama untuk pemenuhan zat gizi, pada beberapa kasus perlu juga tambahan fortifikasi protein pada minggu-minggu awal krusial kehidupan.

Dr Ekhard E. Ziegler, Profesor Pediatric dari USA mempertanyakan apabila seorang bayi mengkonsumsi protein terlalu banyak pada tahun pertama kehidupannya akan mudah terkena obes di masa yang akan datang, melihat dari data terbaru pada sekelompok bayi yang lahir dari ibu yang overweight. Sementara itu, beliau melihat bukti-bukti yang ada bahwa asupan protein yang berlebihan pada bayi di awal kehidupan berhubungan dengan obesitas di masa mendatang dan susu formula dengan kandungan protein rendah dapat mengurangi resiko obesitas tersebut, beliau juga memperingatkan bahwa penurunan asupan protein pada bayi he also warned that lowering an infant’s protein intake harus dilakukan dengan hati-hati, karena berpotensial untuk memperngaruhi perkembangan bayi.

Dr Berthold Koletzko, Profesor Pediatric dari Jerman menangani pertanyaan sulit mengenai sumber dan tingkatan protein makanan selama pengenalan makanan tambahan. Beliau menyimpulkan bahwa ketika ASI tidak bisa dilakukan, penggunaan susu formula lanjutan dengan kandungan protein yang dikurangi selama periode penyapihan dan tahun pertama kehidupan diutamakan berasal dari sumber lain, seperti susu sapi yang dapat meningkatkan suplai protein. Namun mencatat data yang terbatas, beliau juga meminta untuk diadakan penelitian untuk menentukan pilihan susu terbaik diatas usia 12 bulan dan keuntungannya untuk bayi.

Dr Emilie G. Flores, Profesor di bidang gizi dari Filipina menyatakan bahwa laporan saat ini dari UNICEF menunjukkan seperempat dari anak-anak dibawa 5 tahun yang hidup di urban area kerdil, kemungkinan disebabkan oleh defisiensi kalori atau protein. Anak-anak ini juga menderita sakit kronis, dan berhubungan dengan masalah perkembangan dan kesehatan. Asia merupakan daerah dengan tingkat keprihatinan yang cukup besar yaitu memiliki prevalensi 18% dari bayi BBLR di dunia. Dr Emilie menyatakan pentingnya penyebaran informasi akurat berhubungan dengan nutrisi awal kehidupan – mulai dari mempromosikan ASI hingga makanan tambahan yang mencukupi,  sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan anak-anak di daerah tersebut.