Artikel Berita

Pemograman Hidup Sehat: Pengetahuan Baru Menyarankan Revisi Lengkap dari Pendekatan Nutrisi Pre dan Postnatal terhadap Defisiensi Zat Besi yang Berdampak pada Pemrograman Metabolisme

Tercatat:  Kamis, Maret 06, 2014

Kongres Global ketiga untuk konsensus Pediatrics and Child Health (CIP, www.cipediatrics.org), disponsori oleh Nestlé Nutrition Institute, yang diadakan di Bangkok, Thailand pada 13 Februari, 2014. Kongres tersebut menawarkankan platform perdebatan akademis global untuk membahas masalah sehari-hari dan yang paling akut yang berkaitan dengan patologi kesehatan anak, kesulitan dan kontroversinya.

Pentingnya nutrisi bayi dan anak bagi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat sudah dipahami dengan baik. Bagaimana pun, menurut bukti ilmiah yang diungkapkan pada beberapa tahun terakhir, konsumsi makanan pada bulan-bulan pertama dan tahun-tahun berikutnya memiliki efek yang jauh lebih lama dan mempengaruhi kesehatan beberapa dekade kemudian di masa dewasa. Kerentanan terhadap penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskuler, obesitas, diabetes dan alergi tidak semata-mata tergantung pada gen yang diwarisi dari orang tua. Namun juga tergantung pada pengaruh epigenetik selama periode kritis hingga anak berusia dua tahun.

Pengetahuan baru mengenai defisiensi zat besi

Prof. Andrew Prentice (MRC International Nutrition Group at the London School of Hygiene and Tropical Medicine in the UK, dan MRC Keneba di Gambia) berbagi penemuan baru tenatng defisiensi zat besi. Defisiensi zat besi dalam kandungan dan pada tahun pertama kehidupan memiliki efek jangka panjang pada perkembangan anak, terutama dalam kaitannya dengan otak. Seiring dengan proses evolusi manusia (salah satu nya adalah evolsui bentuk otak dari sederhana menjadi lebih kompleks), setiap kekurangan dan kemampuan kognitif memberikan kontribusi kuat terhadap kurangnya “human capital” dari bangsa, serta merugikan individu itu sendiri. Oleh karena itu, status zat besi merupakan komponen penting dalam pemrograman hidup sehat. Di negara-negara maju, defisiensi bzat besi umumnya jarang karena mudahnya akses pada pangan hewani dan makanan fortifikasi. Namun keadaannya sangat berbeda di negara-negara berkembang dimana beberapa factor seperti infeksi cacing, malaria, kerusakan usus dan diet yang buruk berkontribusi pada tingginya kejadian defisiensi zat besi.

Selama beberapa dekade diasumsikan bahwa anak-anak yang secara fisiologis  kurang dapat menyerap zat besi yang cukup dan karena itu perlu diberikan dosis besar besi mudah diserap. Sejumlah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa strategi ini telah menyebabkan peningkatan infeksi dan efek samping yang parah karena besi memberi asupan bagi patogen potensial dan mendorong pertumbuhan mereka. Temuan baru menunjukkan bahwa anak-anak di lingkungan yang sangat menular secara aktif tidak termasuk zat besi sehingga tidak meningkatkan risiko infeksi. Proses ini diatur oleh penemuan baru dari regulator master metabolisme besi yang disebut hepcidin. Hepcidin menilai kedua kebutuhan besi dan ancaman infeksi, dan membuat keputusan fisiologis kapan waktu yang aman untuk menyerap zat besi. Wawasan ini menyarankan revisi lengkap dari pendekatan kami untuk memerangi kekurangan zat besi.

Nutrisi pre- dan postnatal serta pemrograman metabolism

Prof. Ferdinand Haschke (Nestlé Nutrition Institute in Vevey, Switzerland, and the Medical University in Vienna, Austria) menyoroti malnutrisi pada pre- dan postnatal dapat menyebabkan pemrograman yang tidak baik (epigenetik)  dengan konsekuensi jangka panjang. Di beberapa negara maju kelebihan berat badan/obesitas selama masa kanak-kanak dan remaja saat ini terjadi pada lebih dari 25% populasi. Bayi dengan pertambahan berat badan yang pesat setelah dilahirkan memiliki peningkatan risiko untuk menjadi obes di kemudian hari. jika ibu kegemukan atau obes, bayi yang diberi ASI peningkatan berat badannya lebih cepat selama 6 bulan pertama kehidupan dibandingkan standar WHO. Di sisi lain, bayi bayi dari ibu obes berat badannya meningkat lebih sedikit jika menyusui dilanjutkan lebih dari 6 bulan dibandingkan bayi yang diberi susu formula, sesuai dengan Codex Alimentarius. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemberian formula rendah protein (berbasis whey, 1.65g protein/100 Kkal) pada bayi Antara 3 dan 12 bulan dari ibu gemuk atau obes menghasilkan peningkatan berat badan yang mirip dengan bayi ASI yang diteliti. Pada saat yang sama, dibandingkan dengan pola pemberian makan lainnya, ASI eksklusif hingga usia 6 bulan berhubungan dengan berat badan yang lebih tinggi, panjang badan, dan rendahnya kemungkinan menjadi stunting dan infeksi.