Artikel Berita

Para Ahli Menyoroti Adanya Kesenjangan yang Lebar pada Kebijakan Pangan Sehat

Tercatat:  Rabu, September 17, 2014

Kebijakan pangan sehat untuk meningkatkan kesehatan masa kanak-kanak dan menurunkan risiko obesitas tidaklah memadai, menurut sebuah laporan yang menyoroti prioritas kebijakan yang dikaji oleh panel ahli yang beranggotakan lebih dari 50 profesional Selandia Baru di bidang kesehatan masyarakat, praktisi medis dan pimpinan LSM. Panel mereview semua bukti program yang dilakukan pemerintah saat ini dan menilai tingkat pelaksanaannya dibandingkan dengan taraf internasional.

Mereka juga mengidentifikasi rekomendasi hal-hal prioritas yang harus dilaksanakan pemerintah untuk mengisi kesenjangan dari proses implementasi. Kartu laporan yang unik merupakan penelitian sistematis pertama pada kebijakan pangan nasional di dunia dan hal tersebut menunjukkan bahwa, ada beberapa kekuatan, namun ada banyak kebijakan pangan sehat yang masih perlu diimplementasikan di Selandia Baru. Dalam laporan yang dikeluarkan hari ini, ahli kesehatan dunia, Profesor Boyd Swinburn dari the University of Auckland, mengatakan bahwa kekhawatiran utama terletak pada banyaknya kebijakan pangan yang hanya sedikit diimplementasikan. 

“Hal ini terutama terlihat pada area mengurangi pemasaran makanan yang tidak sehat untuk anak dan penggunaan kebijakan fiskal, seperti pajak minuman manis, untuk mempengaruhi pilihan makanan,’ ujarnya. 

“Tidak terlihat adanya rencana keseluruhan untuk meningkatan kesehatan masyarakat dan menurunkan obesitas, dimana pola makan tidak sehat adalah penyebab terbesar penyakit yang bisa dicegah dan Selandia Baru memiliki tingkat obesitas tertinggi di antara negara-negara OECD.”

Laporan ini menyajikan hasil penelitian penilaian terhadap pemerintah Selandia Baru dalam mengimplementasikan kebijakan dan dukungan infrastruktur yang dipertimbangkan sebagai tips praktis internasional dalam meningkatkan kesehatan lingkungan makanan. 

Panel para ahli juga mengidentifikasi kegiatan pemerintah Selandia Baru untuk meningkatkan lingkungan pangan yang sehat dan kontribusinya dalam menurunkan obesitas dan penyakit yang terkait obesitas. Profesor Swinburn mengatakan bahwa prioritas utama saat ini adalah mengembangkan rencana komprehensif untuk pemilihan pangan dan pola makan dan menargetkan penurunan obesitas pada anak-anak.

“Rencana “The Healthy Eating Healthy Action” dihentikan lebih awal termasuk pendanaan dan evaluasinya di tahun 2010 dan ada kebutuhan mendesak untuk menggantinya dengan rencana yang lain,” ujarnya.

“Selandia Baru diharapkan untuk melaporkan kepada WHO di tahun 2015, program tersebut sepenuhnya dibiayai pemerintah, sebuah rencana komprehensif untuk mengurangi penyakit tidak menular seperti diabetes, kanker dan penyakit-penyakit kardiovaskular.”

“Selandia Baru juga diharapkan untuk melaporkan kemajuan dalam mengurangi pemasaran jajanan tidak sehat kepada anak-anak karena hal ini termasuk dalam bagian 25 indikator rencana monitoring penyakit tidak menular dari WHO,” sebut Profesor Swinburn. 

“Kurangnya ketertarikan pemerintah dalam melindungi anak-anak dari eksploitasi komersial tidak akan dipertimbangkan sebagai kemajuan yang dapat diterima pada negara dengan pendapatan tinggi, kapasitas tinggi yang merupakan salah satu negara dengan prevalensi obesitas anak tertinggi di dunia.” 

Beliau mengatakan bahwa Selandia Baru memiliki kesempatan emas untuk dapat melakukan pencegahan obesitas dan pola makan terkait penyakit tidak menular secara serius dan menginvestasikan kebijakan dengan tingginya efektivitas biaya dan program untuk menjadi pemimpin di area tersebut. 

“Sudah terlihat dengan jelas dibutuhkannya upaya lebih besar dari pemerintah dibandingkan dengan yang sekarang sudah dilakukan. Rekomendasi prioritas hal yang harus dilakukan terlebih dahulu sudah disusun oleh ahli kesehatan masyarakat Selandia Baru. Semuanya dapat dicapai dengan komitmen penuh pemerintah.” 

“Tidak ada rekomendasi di luar jangkauan yang dapat dilakukan di negara maju, rekomendasi tersebut memiliki alasan kuat untuk pemerintah yang bertanggung jawab dan apa yang di harapkan dari masyarakat Selandia Baru yang peduli dengan kesehatan dan kesehatan anak-anaknya,” ungkap Profesor Swinburn.

Rekomendasi untuk peningkatan kesehatan pada lingkungan pangan adalah :

- Melaksanakan rencana aksi nasional yang komprehensif

- Menyusun skala prioritas dalam Statements of Intent dan menyusun target untuk :

     *Menurunkan obesitas pada anak dan remaja 

     *Mengurangi asupan garam, gula dan lemak jenuh

     *Komposisi makanan (garam dan lemak jenuh) pada kelompok makanan kunci

- Meningkatkan dana untuk promosi kesehatan masyarakat, sebanyak dua kali lipat paling tidak $70m/tahun

- Mengurangi pemasaran makanan tidak sehat pada anak dan remaja dengan cara :

     *Membatasi pemasaran makanan tidak sehat kepada anak dan remaja melalui media iklan dan non-iklan

     *Memastikan bahwa sekolah, playgroup dan daycare bebas dari promosi komersial makanan tidak sehat

- Memastikan bahwa makanan yang disediakan atau dijual di lingkungan sekolah, playgroup maupun daycare dapat memenuhi Angka Kecukupan Gizi

- Melaksanakan system Health Star Rating, menjadikan hal tersebut sebagai hal yang wajib dilaksanakan selama 2 tahun

- Mengenalkan pajak tinggi paling tidak sebesar 20% pada minuman bergula-berpemanis

Pelaksanaan prioritas kebijakan dan penilaian dukungan infrastruktur menunjukkan beberapa kekuatan.

“Selandia Baru dan Australia telah menyusun perbandingan internasional dalam satu area dengan mengaplikasikan sistem profiling gizi untuk mencegah makanan tidak sehat membuat klaim kesehatan apapun,” ujar Profesor Swinburn. 

“Selandia Baru juga menerapkan standar dunia, bersamaan dengan banyak negara berpendapatan tinggi lainnya, dalam penulisan panel informasi gizi makanan kemasan, memiliki sistem monitoring yang baik untuk penyakit tidak menular dan faktor risikonya, serta memiliki standar tinggi dalam hal transparansi dan akses informasi kepada pemerintah.” 

Beliau mengatakan, beberapa inisiatif sudah dijalankan dan menunjukkan kemajuan yang baik, seperti mengurangi lemak trans dalam makanan, memiliki panduan pola makan dan beberapa sistem pendukung untuk memantapkan kebijakan makanan sehat.

“Implementasi label di bagian depan kemasan (Health Star Ratings) dan pengembangan sistem pendekatan kepada upaya dari masyarakat (Keluarga Sehat Selandia Baru) dinilai rendah implementasinya, namun dikarenakan pemerintah telah memulai inisiatif ini, ada potensi untuk peningkatan implementasi,” ujar Prof Swinburn. 

Laporan ini merupakan bagian dari pekerjaan oleh jaringan INFORMAS untuk mengembangkan the first Healthy Food Environment Policy Index (Food-EPI).

INFORMAS is the International Network for Food and Obesity / non-communicable diseases Research, Monitoring and Action Support (www.informas.org)

The Health Food Environment Policy Index (FOOD-EPI) in New Zealand: Policies and actions to improve the healthiness of food environments: Experts’ assessments and recommendations. (July 2014) INFORMAS.

http://ebooks.fmhs.auckland.ac.nz/informas-bfe-report-2014/