Artikel Berita

Nutrisi dan Probiotik adalah Faktor Kunci Saluran Pencernaan

Tercatat:  Rabu, Mei 28, 2014

Diet sehat dan seimbang, serta probiotik, sejak dulu diketahui dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Tapi hanya baru-baru ini, diketahui bagaimana mekanismenya. Seiring dengan pesatnya peningkatan ilmu pengetahuan, kejelasan mengenai efek makanan kita sehari-hari pada mikrobiota usus semakin banyak diketahui begitu juga kemungkinan penggunaan probiotik untuk hal lain di masa depan. Ini adalah salah satu topik yang dipresentasikan pada Gut Microbiota for Health World Summit di Miami, FL, AS. Pada tanggal 08-09 Maret 2014, para ahli internasional terkemuka membahas kemajuan terbaru dalam penelitian mikrobiota usus dan dampaknya terhadap kesehatan.

"Pola makan adalah isu utama ketika membicarakan tentang menjaga kesehatan saluran cerna kita, karena dengan proses makan dan mencerna kita benar-benar memberi makan mikrobiota usus, dan dengan demikian mempengaruhi keanekaragaman mikrobiota usus dan komposisinya," ujar pakar mikrobiota Profesor Francisco Guarner (University Hospital Valld'Hebron, Barcelona, Spanyol). "Jika keseimbangan ini terganggu, sejumlah gangguan dapat terjadi, termasuk gangguan pencernaan fungsional, penyakit radang usus dan penyakit lain yang terkait sistem pertahanan tubuh, seperti penyakit seliak dan alergi. Juga, penyakit metabolik, seperti diabetes tipe 2, dan mungkin gangguan perilaku bahkan, seperti autisme dan depresi, dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan mikroba usus. Meskipun terganggunya keseimbangan mikroba usus  dapat disebabkan oleh banyak hal seperti infeksi oleh kuman patogen atau penggunaan antibiotik, namun makanan kita sehari-hari dan gaya hidup memerankan peran yang sangat penting. Oleh kerena itu, keputusan untuk memelihara kesehatan pencernaan, ada di tangan kita."

Apa yang membuat probiotik bermanfaat?

Apa hubungannya hal ini dengan pola makan kita sehari-hari? Menurut Prof Guarner, peningkatan asupan yang tinggi lemak hewani, berminyak dan digoreng tidak dianjurkan. Sementara diet kaya sayuran, salad dan buah-buahan telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Hal yang sama berlaku untuk produk susu fermentasi yang mengandung probiotik. Probiotik didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) dan Agriculture Organization of the United Nations (FAO) sebagai organisme hidup yang jika tertelan dalam jumlah yang cukup, memberi efek kesehatan pada pejamu.

"Tantangan utamanya, adalah menentukan organisme mana yang bermanfaat dan dapat memberikan efek preventif atau terapeutik. Dan bagi mereka yang sepatutnya disebut ‘probiotik', jumlah dosis pemakaian yang lebih tepat dari yang telah diketahui saat ini harus ditentukan," kata Prof Guarner.

Namun, ia menunjukkan bahwa langkah-langkah penting ke arah sana telah dibuat : "Mekanisme kerja probiotik sehingga dapat memberi manfaat, telah menjadi semakin jelas. Melalui molekul yang berbeda, probiotik berinteraksi dengan pejamu melalui berbagai mekanisme dan jalur. Beberapa probiotik, misalnya, dapat menahan kuman dengan meningkatkan fungsi pertahanan usus, mereka melawan mikroorganisme penyebab penyakit yang mencoba menyerang pejamu".

Menurut Prof Guarner, kegunaan lebih lanjut "jasa" probiotik adalah memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan menstimulasi mekanisme kekebalan tubuh di dalam maupun di luar usus, membantu mengatur motilitas usus, dan bertindak sebagai senyawa anti - inflamasi di usus, dengan dampak hingga ke luar usus. Kemampuan probiotik dalam mempengaruhi berbagai gangguan pencernaan tergantung dari kemampuannya untuk meningkatkan komposisi mikroba baik di dalam usus dan menjaga stabilitas komposisi tersebutnya. Sementara itu, masyarakat medis, seperti World Gastroenterology Organisation (WGO) dan European Society for Primary Care Gastroenterology (ESPCG), telah menyediakan dokter dengan pedoman yang menginformasikan tentang jenis probiotik yang memiliki efek menguntungkan pada saluran pencernaan.

Berguna, bahkan sejak awal kehidupan

Probiotik memiliki efek menguntungkan pada semua tahap kehidupan, termasuk yang sangat awal. Professor Brent Polk (University of Southern California dan Rumah Sakit Anak Los Angeles, California, AS) menunjukkan studi yang membuktikan efek menguntungkan dari probiotik tertentu pada gastroenteritis, kolik, eksim, diare dan necrotizing enterocolitis (suatu kondisi pada anak-anak prematur yang mengarah ke jaringan kematian di beberapa bagian usus) pada anak-anak. Selain itu, menurut beberapa penelitian preventif, probiotik, seperti Lactobacillus rhamnosus dapat mendukung pencegahan penyakit pada anak-anak yang keragaman mikrobiotanya cenderung sedikit karena mereka tidak diberi ASI, telah terkena paparan antibiotik atau dilahirkan melalui operasi caesar. Dalam semua kasus ini, perkembangan mikrobiota usus yang kaya dan seimbang mungkin akan tertunda atau terhalang.

Seperti yang ditunjukkan oleh Prof Polk, untuk pengobatan pasien tertentu, seperti individu yang immunocompromised, yang rentan terhadap infeksi bakteri, dapat juga disarankan untuk mengganti bakteri probiotik dengan produk probiotik turunan. Penelitian terkait hal ini telah berhasil dilakukan. Prof Polk dan rekan-rekannya mengidentifikasi protein larut air (p40) yang merupakan bagian dari bakteri probiotik Lactobacillus rhamnosus, yang mereka ujikan pada tikus. Mereka bisa menunjukkan bahwa zat turunan probiotik dapat mencegah suatu bentuk kematian sel - yang disebabkan oleh rusaknya protein yang biasanya mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel - dalam sel epitel usus besar. Ketika p40 mengaktifkan reseptor spesifik pada sel epitel usus, protein ini melindungi usus dari peradangan.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa di klik di tautan di bawah ini :

http://www.eurekalert.org/pub_releases/2014-03/aga-fgm030714.php