Artikel Berita

Nutrisi Sebelum dan Sesudah Kelahiran : Pengaruh terhadap Kesehatan Jangka Pendek dan Panjang

Tercatat:  Rabu, Juli 16, 2014

Pertemuan Tahunan ke-47 dari European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN, http://www.espghan2014.org/home) diselenggarakan di Yerusalem tanggal 9-12 Juni 2014. ESPGHAN adalah pertemuan global terkemuka bagi ribuan dokter, peneliti dan ilmuwan dari seluruh dunia, yang bertujuan untuk mempromosikan kesehatan anak  dengan fokus pembahasan gangguan pencernaan dan gizi. The Nestlé Nutrition Institute menyelenggarakan dua simposium satelit pada pertemuan tersebut dengan tema bagaimana mencegah alergi makanan, mendiagnosa dan manajemen alergi protein susu sapi, serta nutrisi sebelum dan sesudah kelahiran.

Nutrisi Sebelum dan Sesudah Kelahiran : kesempatan untuk perbaikan 

Prof Flavia Indrio (Department of Pediatrics, University of Bari, Italia) mengemukakan tentang pencegahan gangguan pencernaan fungsional pada awal kehidupan bayi dengan suplemen probiotik. 

Kolik infantil, reflux gastro-esofagus dan konstipasi adalah gangguan pencernaan fungsional paling umum yang menyebabkan rujukan ke dokter anak selama enam bulan pertama kehidupan, rawat inap, perubahan makan, penggunaan obat-obatan, kecemasan orang tua dan kehilangan hari kerja bagi orang tua dengan konsekuensi sosial yang relevan. Penelitian terbaru menunjukkan peran penting mikrobiota usus terhadap gangguan pencernaan; dan ada banyak penelitian yang menargetkan terapi probiotik untuk penyakit tertentu seperti kolik, regurgitasi dan konstipasi. Pengaruh probiotik dapat berperan penting dalam modulasi peradangan usus. 

Berthold Koletzko (Dokter dari Rumah Sakit Anak Dr von Hauner, Ludwig Maximilian University of Munich, Jerman) menyoroti dampak jangka panjang asupan protein untuk bayi.

Nutrisi 1000 hari pertama kehidupan, dari konsepsi hingga anak usia dini, dapat menyebabkan efek “pemrograman” pada kesehatan jangka panjang dan risiko penyakit hingga usia tua. Kenaikan berat badan yang cepat pada masa bayi dan anak usia dini memicu peningkatan risiko obesitas di kemudian hari, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya. Sebuah uji klinis besar multi-center yang didanai oleh European Commission, dengan sampel sebanyak 1.700 bayi sehat dari lima negara Eropa, membuktikan bahwa pemberian makan bayi memiliki efek pemrograman yang kuat, dengan efek yang sangat besar pada risiko obesitas di kemudian hari serta risiko penyakit terkait. Menyusui dapat memberikan perlindungan terhadap risiko obesitas di kemudian hari dan harus aktif dipromosikan, dilindungi dan didukung. Bayi yang tidak sepenuhnya diberi ASI diberikan formula bayi dengan kandungan protein yang lebih rendah tapi memiliki kualitas protein tinggi. Susu sapi yang tidak dimodifikasi mengandung protein tiga kali lebih banyak dari protein ASI dan harus dihindari selama 1 tahun kehidupan ketika ASI layak dan mudah diberikan. Kedepannya, standar peraturan susu formula bayi dan follow-on haruslah memiliki konsentrasi protein yang lebih rendah daripada rekomendasi saat ini dari EU (1,8 g/100kcal) jika uji klinis membuktikan keamanan dan efikasinya. 

Faktor-Faktor Keberhasilan untuk Mencegah Alergi Makanan, Mendiagnosa dan Manajemen Alergi Protein Susu Sapi  

Prof. Ralf Heine (Department of Gastroenterology & Clinical Nutrition at the Royal Children’s Hospital, Murdoch Children’s Research Institute, University of Melbourne, Australia) membagikan temuan baru tentang manajemen alergi protein susu sapi.

Adanya peningkatan jumlah bayi dengan alergi protein susu sapi dicatat oleh dokter anak dan dokter anak ahli gastroenterologi. Beragam presentasi klinis dan kurangnya penanda diagnosa yang jelas masih menimbulkan dilema dalam penanganannya. Kurangnya informasi dan kesalahan diagnosa alergi makanan pada usus, kurangnya pengawasan menu makanan yang tidak diperbolehkan memicu status gizi yang kurang baik pada bayi dan anak-anak.

Prof. Katarina Allen (Centre for Food & Allergy Research Gastro & Food Allergy Group, Population Health, Murdoch Children’s Research Institute, University of Melbourne and Royal Children’s Hospital, Australia) menyoroti bukti saat ini untuk peran pengenalan makanan dini dalam pencegahan alergi makanan.

Identifikasi strategi pencegahan alergi makanan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting mengingat meningkatnya presentasi reaksi alergi makanan pada anak-anak di rumah sakit. Secara khusus, ada peningkatan minat; apakah waktu pengenalan makanan padat (terutama padat alergi seperti telur dan kacang tanah) berperan dalam pengembangan awal alergi makanan. Sampai saat ini, penelitian yang dibatasi pada studi kohort kelahiran observasional yang telah menghasilkan data yang menunjukkan bahwa penundaan pengenalan makanan padat yang berisiko alergi sebenarnya meningkat dibandingkan mengurangi risiko alergi makanan. Namun, temuan dari penelitian ini harus dilihat dengan hati-hati karena sulit untuk menghilangkan potensi faktor pembaur untuk menghasilkan asosiasi palsu antara pilihan pemberian makanan bayi dan risiko alergi makanan. 

Prof Sibylle Koletzko (Dr. von Hauner Children’s Hospital, Ludwig Maximilian’s University of Munich, Germany) mengemukakan tentang penerapan Pedoman ESPGHAN untuk Mendiagnosa dan Manajemen Alergi Protein Susu Sapi. 

Alergi makanan semakin diakui di berbagai belahan dunia. Protein susu sapi adalah penyebab utama alergi makanan pada bayi dan anak-anak di bawah usia tiga tahun. Gejala dan tanda-tanda yang berhubungan dengan alergi protein susu sapi dapat melibatkan banyak sistem organ yang berbeda, namun sebagian besar kulit, pencernaan dan saluran pernapasan dan gejala umum lainnya. Oleh karena itu, dengan tidak adanya biomarker spesifik dan sensitif, risiko kelebihan dan kekurangan-diagnosa sangat tinggi jika kriteria diagnostik yang ketat tidak diterapkan. Sebuah algoritma untuk mendiagnosa dan rekomendasi yang jelas untuk manajemen alergi telah dikembangkan oleh ESPGHAN. Terlepas dari kesederhanaan algoritma ini, diagnosa masih banyak yang salah pada kebanyakan pasien. Faktor penghambat umum dan nasional-spesifik dan kontribusinya harus diidentifikasi di negara-negara Eropa yang berbeda untuk mengatasi dan memfasilitasi pelaksanaan pedoman, untuk meningkatkan perawatan anak-anak, dan untuk menghemat biaya bagi masyarakat. 

Catatan untuk editor:

The Nestlé Nutrition Institute (NNI) dengan slogan "Science for Better Nutrition" secara konsisten terus berbagi informasi berbasis ilmu pengetahuan dan pendidikan untuk berkontribusi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di seluruh dunia. 

NNI berbagi informasi berbasis ilmu pengetahuan dan pendidikan kepada profesional kesehatan, ilmuwan, komunitas gizi dan para pemangku kepentingan dengan cara yang interaktif.

(MN from NNI Global Website)