Artikel Berita

Apakah Probiotik Dapat Menjadi Strategi yang Menjanjikan untuk Mengatasi Depresi?

Tercatat:  Rabu, September 24, 2014

Probiotik bukanlah satu hal baru, namun status probiotik sebagai salah satu zat gizi yang hangat diperbincangkan. Kebanyakan orang telah mendengar dan melihat berkali-kali tayangan iklan komersial terkait probiotik, seperti yogurt, suplemen makanan, produk makanan alami, dan bahkan perusahaan kosmetik pun mempromosikan produk mereka yang mengandung probiotik. Selama beberapa tahun terakhir, penelitian telah dilakukan untuk menggali kemungkinan pengaruh probiotik terhadap perilaku. Dalam konteks ini diungkapkan bahwa konsep psychobiotic telah muncul. 

Apakah probiotik itu, dan mengapa penting? Probiotik adalah bakteri hidup yang membantu mempertahankan kesehatan saluran cerna. Pengembangan dan pemasaran produk yang mengandung bakteri hidup berkembang pesat sejalan dengan tumbuhnya ketertarikan terhadap konsumsi “pangan alami” yang bisa meningkatkan kesehatan. Banyak klaim kesehatan yang belum didukung bukti ilmiah, namun mikroorganisme ini memberikan pengaruh positif pada saluran cerna, terutama pada saat digunakan untuk melawan efek antibiotik, yang membunuh baik bakteri baik maupun bakteri jahat. Tentu saja, deskripsi tentang probiotik yang pertama kali diketahui adalah pada tahun 1908 ketika ilmuwan Rusia bernama Élie Metchnikoff mengamati bahwa orang Eropa yang tinggal di pedesaan dan rutin mengonsumsi produk susu fermentasi memiliki masa hidup lebih lama. 

Selama beberapa tahun terakhir, banyak penelitian telah dilakukan untuk menggali kemungkinan pengaruh probiotik terhadap perilaku. Dalam konteks ini diungkapkan bahwa konsep psychobiotic telah muncul. 

Para penulis dari sebuah artikel baru di Biological Psychiatry, Timothy Dinan dan rekan-rekannya dari University College Cork di Irlandia, mendefinisikan psychobiotic sebagai "organisme hidup yang ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, menghasilkan manfaat kesehatan pada pasien yang menderita penyakit jiwa." Mereka mengkaji bukti ilmiah bahwa bakteri ini, ketika dicerna dalam jumlah yang memadai, menawarkan potensi besar untuk pengobatan depresi dan gangguan lain yang terkait dengan stres. Mikrobiota usus, yang berisi sekitar 1 kg bakteri, dapat dipengaruhi oleh diet dan faktor lainnya. Hal ini tidak statis dan dapat berubah dari hari ke hari, mulai dari lahir. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa bahkan jenis kelahiran (normal dibandingkan caesar) dapat mengubah mikrobiota individu. 

Stres di awal kehidupan, seperti berpisah dengan ibu , diketahui memicu perubahan mikrobioma dalam jangka panjang. Dinan dan rekan-rekannya mengkaji satu penelitian yang menilai potensi manfaat probiotik tertentu, B. infantis, pada tikus yang menunjukkan perilaku depresi karena berpisah dengan induknya. Pemberian probiotik menormalkan baik perilaku mereka maupun respon imun yang yang sebelumnya tidak normal. Penelitian pra-klinis ini dan penelitian lain-lain mendukung kuat hipotesis bahwa probiotik memiliki potensi untuk mempengaruhi perilaku dan imunologi. 

Beberapa psychobiotics telah terbukti memiliki efek anti-inflamasi. Hal ini penting karena depresi dan stress, keduanya berhubungan dengan peradangan di dalam tubuh. Penyakit infeksi, seperti sifilis dan penyakit Lyme, juga dapat memicu keadaan depresi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa aktivasi kekebalan, mungkin melalui tindakan psychobiotic, bisa meringankan kondisi tersebut. Menurut penulis, "keseimbangan mikroba usus dapat mengubah pengaturan respon inflamasi dan dengan demikian mungkin terlibat dalam modulasi suasana hati (mood) dan perilaku." 

Penelitian pada manusia tentang psychobiotic masih sangat kurang, tetapi beberapa penelitian yang ada menunjukkan hasil yang menjanjikan. Salah satunya adalah penelitian terhadap subjek sehat yang menerima perlakuan kombinasi probiotik (L. helveticus R0052 dan B. longum) atau plasebo selama 30 hari. Mereka yang menerima probiotik melaporkan tingkat stres yang lebih rendah. Dalam sebuah penelitian terpisah, subjek yang mengkonsumsi yoghurt yang mengandung probiotik melaporkan peningkatan mood

Hal yang jelas terlihat pada saat ini adalah bahwa dari sejumlah strain probiotik yang diketahui, hanya sebagian kecil yang berpengaruh pada perilaku dan dapat memenuhi syarat sebagai psychobiotics, "kata Dinan. Ini merupakan area penelitian baru yang menarik yang bisa jadi membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengobatan depresi, "kata Dr John Krystal, Editor Biological Psychiatry. Untuk saat ini, kita semua harus menunggu ilmuwan untuk melakukan penelitian skala besar, uji coba terkontrol plasebo untuk memberikan bukti ilmiah definitif.

Timothy G. Dinan, Catherine Stanton, John F. Cryan. Psychobiotics: A Novel Class of Psychotropic. Biological Psychiatry, 2013; 74 (10): 720

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0006322313004083

untuk keterangan lebih lanjut bisa di klik di bawah ini :

http://www.sciencedaily.com/releases/2013/11/131114094754.htm